Cirebon, – Biro Kemahasiswaan STAI Al-Bahjah bersama Divisi Pendidikan Yayasan Al-Bahjah mengadakan pelatihan khusus bertajuk “Menjadi Guru Syari’ah Ekspektasional” yang diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Acara ini diselenggarakan pada Kamis (18 Rabiul Awal 1447 H / 11 September 2025) di Auditorium STAI Al-Bahjah Cirebon, pukul 10.00–12.00 WIB, diikuti oleh 125 mahasiswa semester 7 Program Studi Ekonomi Syariah yang akan segera melaksanakan magang dan PKL.
Pelatihan ini menghadirkan Ust. Imam Abdullah, B.Sc., M.A., Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan & Alumni STAI Al-Bahjah, yang juga memiliki pengalaman mengajar selama empat tahun di Universitas Imam Syafi’i Yaman dan dua tahun di STAI Al-Bahjah. Dalam materinya, beliau menekankan bahwa guru syari’ah ekspektasional bukan hanya pengajar ilmu, tetapi pembentuk akhlak dan ruhani murid agar menjadi insan kamil.
Ust. Imam memulai dengan motivasi menjadi guru syari’ah yang dilandasi niat yang ikhlas, menjadikan profesi guru sebagai tugas kenabian, sarana amal jariyah, dan ladang pengajaran kebaikan. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ bahwa guru adalah muallim yang keberkahan ilmunya didoakan oleh Allah, para malaikat, dan seluruh makhluk.
Beliau kemudian memaparkan karakteristik guru profesional dan dicintai, yang mencakup empat kompetensi utama:
Pedagogik: mampu merencanakan pembelajaran, menguasai metode variatif, dan menyesuaikan pendekatan dengan karakter murid.
Profesional: menguasai materi secara mendalam dan kontekstual serta selalu memperbarui ilmu.
Kepribadian: memiliki integritas, keteladanan akhlak, kesabaran, dan istiqamah.
Sosial: mampu berkomunikasi efektif dengan murid, orang tua, dan masyarakat serta menciptakan suasana kelas yang penuh kasih sayang.
Materi dilanjutkan dengan konsep Multiple Intelligences ala Howard Gardner dan Mesin Kecerdasan STIFIn untuk membantu guru mengenali gaya belajar dan potensi murid. Ust. Imam menekankan pentingnya psikologi pendidikan, pemahaman tahap perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral siswa, serta peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam pembelajaran.
Beliau menyoroti penguasaan materi dengan contoh para ulama yang senantiasa melakukan muroja’ah, termasuk nasihat Sayyid Salim bin Umar bahwa guru yang tidak mempersiapkan diri sebelum mengajar adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu.
Pembahasan berlanjut pada strategi ekspektasional dalam pembelajaran, seperti student-centered learning, integrasi nilai karakter, pemanfaatan teknologi (blended learning), serta penggunaan metode ceramah, diskusi, simulasi, hingga problem-based learning. Beliau juga menekankan pentingnya manajemen kelas: membangun hubungan positif dengan murid, menetapkan aturan sejak awal, menjaga disiplin, memberi motivasi, dan melakukan evaluasi berkelanjutan.
Di bagian akhir, Ust. Imam mengutip kisah para ulama besar seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Syafi’i, yang menunjukkan bahwa ilmu menuntut kesungguhan dan kesabaran. Beliau juga memberikan contoh bagaimana para guru klasik memberikan apresiasi dan motivasi yang menginspirasi murid untuk terus belajar dan berkarya.
Pelatihan ini ditutup dengan pesan inspiratif: “Guru yang baik adalah pembelajar yang baik.” Mahasiswa diharapkan mampu menjadi guru syari’ah yang ikhlas, berintegritas, berilmu mendalam, dan mampu menumbuhkan generasi umat yang berakhlak mulia./IAR

