Pembekalan Dasar Psikologi Kepondokan Untuk Mahasiswa Tingkat Akhir STAI Al-Bahjah

Cirebon, – Biro Kemahasiswaan STAI Al-Bahjah bekerja sama dengan Biro Psikologi Al-Bahjah sukses menyelenggarakan Pembekalan Dasar Psikologi Kepondokan bagi mahasiswa semester 7 Program Studi Ekonomi Syariah. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium STAI Al-Bahjah Cirebon pada Kamis pagi (18 Rabiul Awal 1447 H / 11 September 2025) pukul 08.00–10.00 WIB ini diikuti oleh 125 mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri untuk magang dan PKL.

Pembekalan ini menghadirkan Ust. Dede Aziz dari Biro Psikologi Al-Bahjah sebagai pemateri. Dalam sesi yang interaktif, beliau menekankan pentingnya pemahaman psikologi dalam membina santri, karena santri memiliki kebutuhan psikologis yang unik yang harus dikenali dan dipenuhi oleh para pembimbing.

Ust. Dede membuka materi dengan pengenalan konsep dasar psikologi, perbedaan antara mental dan iman, serta urgensi ilmu psikologi dalam mendampingi perkembangan santri. Beliau memaparkan beberapa mazhab psikologi, mulai dari psikoanalisa (ID, Ego, Superego), behaviorisme yang menyoroti pentingnya lingkungan dan pengkondisian, psikologi kognitif yang menekankan makna yang diberikan seseorang pada peristiwa, hingga humanistik yang melihat manusia memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang.

Materi berlanjut pada pembahasan kebutuhan manusia berdasarkan teori Maslow, mulai dari kebutuhan rasa aman, kebutuhan fisik, cinta dan rasa memiliki, harga diri, hingga aktualisasi diri. Disampaikan pula konsep kebutuhan eksistensial menurut Erik Fromm, seperti transcendence (memiliki tujuan hidup), relatedness (keterhubungan), rootedness (rasa nyaman dalam kehidupan), sense of identity (kesadaran jati diri), dan frame of orientation (pandangan hidup), yang bila tidak terpenuhi dapat menyebabkan isolasi sosial dan psikologis.

Ust. Dede juga menekankan konsep Gentle Discipline dalam membina santri, yang meliputi menjaga ketenangan, memberi harapan yang realistis, membangun kedekatan emosional, mengelola emosi dengan baik, dan memberikan teladan nyata. Beliau mengingatkan bahwa anak atau santri akan meniru apa yang dilakukan pembimbing, bukan hanya apa yang dikatakan, sehingga penting bagi pendidik untuk menjadi role model yang konsisten.

Pembahasan berikutnya menyoroti penyebab perilaku negatif pada remaja, seperti kurangnya kontrol diri, kebutuhan perhatian, hingga pengaruh lingkungan. Ust. Dede menyarankan langkah perbaikan hubungan melalui komunikasi intensif, misalnya dengan meluangkan waktu mengobrol sebelum tidur, saat sarapan, atau sekadar menanyakan kabar di sore hari.

Di akhir sesi, beliau menyinggung distorsi kognitif yang sering terjadi pada pembimbing maupun santri, seperti mental filtering (terlalu fokus pada hal negatif), overgeneralization (mengambil kesimpulan dari satu peristiwa), berpikir hitam-putih, blaming (menyalahkan orang lain), dan jumping to conclusions (membuat keyakinan tanpa fakta). Pemahaman ini diharapkan membantu mahasiswa mengelola respon emosional mereka ketika menghadapi dinamika di lapangan.

Sesi ditutup dengan diskusi terbuka dan tanya jawab, di mana para mahasiswa tampak antusias menggali cara praktis menghadapi perilaku santri yang beragam. Dengan pembekalan ini, diharapkan mahasiswa STAI Al-Bahjah semakin siap menjadi pembimbing santri yang bijak, sabar, dan mampu memahami aspek psikologis dalam proses pendidikan dan pembinaan di pondok./IAR

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *