Majalengka — Ahad, 2 Jumadats Tsaniyah 1447 H / 23 November 2025 menjadi hari yang sarat makna bagi keluarga besar STAI Al-Bahjah Cirebon. Di bawah semangat untuk memperkuat pembinaan karakter dan tata kelola kemahasiswaan berbasis pesantren, rombongan STAI Al-Bahjah menempuh perjalanan silaturahmi dan studi tatakelola kepondokan ke Pondok Pesantren Tahfidz Sulaimaniyah Majalengka 2 yang dikenal dengan sistem pendidikan karakter, kedisiplinan, dan pembinaan intensif terhadap para santri.
Bukan sekadar kunjungan formalitas, kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog intelektual, pertukaran pengalaman, dan penyerapan nilai-nilai manajemen pesantren yang telah mengakar kuat dalam tradisi pendidikan Sulaimaniyah — tradisi yang memadukan kekuatan hafalan Al-Qur’an dengan pembentukan akhlak dan kedisiplinan yang tinggi.
Setibanya di lokasi, rombongan STAI Al-Bahjah disambut dengan penuh kehangatan. Suasana akrab tercipta sejak awal, menggambarkan kuatnya nilai ukhuwah dan adab keilmuan yang menjadi ciri khas dunia pesantren. Acara resmi dibuka pada pukul 10.30 WIB dengan pemaparan materi manajemen dan kultur pembinaan santri ala Sulaimaniyah yang dipandu langsung oleh Abi Ridwan dan Abi Iftah, dua figur sentral dalam pembinaan santri Sulaimaniyah. Suguhan wawasan yang disampaikan dengan bahasa yang lugas sekaligus penuh pengalaman menjadikan sesi ini sebagai momentum penting bagi para peserta dalam menangkap ruh pembinaan pesantren Sulaimaniyah.
Setelah pemaparan, kegiatan berlanjut dengan Shalat Zhuhur berjamaah dan agenda ramah tamah, mempererat suasana kekeluargaan antar lembaga pendidikan.
Memasuki Sesi II pada pukul 12.30 – 15.00 WIB, diskusi berkembang kian produktif. Rombongan STAI Al-Bahjah mendapatkan kesempatan mendalami berbagai aspek strategis: mulai dari pola komunikasi pembina-santri, sistem pembinaan disiplin dan akhlak, strategi kepemimpinan internal pesantren, pembinaan keilmuan dan non-akademik, dan tata kelola staf dan struktur kepondokan.
Sesi dilanjutkan dengan keliling area pondok untuk melihat secara langsung penerapan manajemen kepondokan di lapangan. Momen penutup dilakukan dengan kunjungan ke Museum Sulaimaniyah, menghadirkan pengalaman historis yang memperkaya narasi perjalanan pendidikan pesantren lintas generasi.
Kunjungan ini diikuti oleh gabungan unsur asatidzah dan mahasiswa aktivis STAI Al-Bahjah terdiri dari 8 Asatidzah, mulai dari Wakil Ketua III Kemahasiswaan STAI Al-Bahjah, Ketua Pondok Al-Bahjah Cabang Cirebon 1, Ketua & Staf Kepondokan Banin STAI Al-Bahjah, Ketua Tim Dakwah Al-Bahjah Pusat, Sekretaris Pendidikan Yayasan Al-Bahjah, dan jajaran pendidik lainnya. Adapun santri ada 9 orang, terdiri dari perwakilan BEM, Forkom UKM, Organisasi Santri Pondok STAI Al-Bahjah.
Keterlibatan dari unsur pimpinan hingga mahasiswa aktivis ini menunjukkan bahwa penguatan pembinaan santri bukan hanya tugas struktural, tetapi gerakan kultural bersama.
Melalui kunjungan ini, STAI Al-Bahjah membawa pulang banyak inspirasi penting — mulai dari pola pembinaan, ritme aktivitas, hingga filosofi pendidikan Sulaimaniyah yang menggabungkan kedisiplinan, keteladanan, dan kehangatan.
Lebih dari sekadar belajar, kunjungan ini diharapkan menjadi pintu bagi: lahirnya kolaborasi jangka panjang antar lembaga pesantren, penguatan pembinaan karakter mahasiswa berbasis pesantren di lingkungan kampus, serta peningkatan mutu akademik dan non-akademik melalui atmosfer pendidikan yang religius, tertib, dan bersanad.
Kegiatan ini menegaskan kembali komitmen STAI Al-Bahjah:
Bahwa kaderisasi ulama dan pemimpin umat tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi dari lingkungan pendidikan yang utuh — kampus berjiwa pesantren, dan pesantren bernapas ilmu./IAR

