CIREBON – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Bahjah Cirebon menerima kunjungan kehormatan dari Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, MA., pada Ahad (12/4). Kunjungan ini merupakan agenda silaturahmi sekaligus upaya penguatan institusi menuju transformasi menjadi Institut Al-Bahjah.
Silaturahmi dengan Buya Yahya
Rangkaian kegiatan diawali dengan silaturahmi hangat antara Prof. Sahiron dengan pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya. Pertemuan tersebut berlangsung penuh khidmat, membahas peran strategis lembaga pendidikan berbasis pesantren dalam mencetak generasi bangsa yang beradab dan berilmu.
Menuju Institut Al-Bahjah yang Unggul
Setelah bertemu dengan Buya Yahya, rombongan Direktur Diktis disambut langsung oleh Ketua STAI Al-Bahjah, Ustadz Muhamad Saechu, Lc., M.E., Wakil Ketua I, Gus Zamzami B.Sc., M.A., Wakil Ketua II Ustadz Carnawi, M.Pd, beserta para Ketua Program Studi, kepala pusat, biro, serta segenap dosen dan tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Ustadz Muhamad Saechu menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran Prof. Sahiron di kampus Al-Bahjah. Beliau menegaskan bahwa kehadiran Direktur Diktis menjadi suntikan semangat bagi seluruh sivitas akademika, terutama di tengah proses transisi institusi.
“Kami memohon bimbingan dan arahan dari Prof. Sahiron demi kemajuan STAI Al-Bahjah. Saat ini, kami sedang berikhtiar dan dalam proses pengajuan alih bentuk menjadi Institut Al-Bahjah. Semoga langkah ini menjadi wasilah untuk kebermanfaatan yang lebih luas,” ujar Ustadz Saechu.
Workshop Peningkatan Keterampilan Dosen
Tidak hanya sekadar bersilaturahmi, Prof. Sahiron juga memberikan bekal akademik melalui workshop bertajuk “Penguatan Program Prioritas Menuju STAI Al-Bahjah yang Unggul dalam Mencetak Intelektual Muslim Bertaraf Internasional”
Dalam paparannya, Prof. Sahiron menekankan tiga pilar utama tugas dosen yang harus diimplementasikan secara selaras:
1. Transfer Ilmu Pengetahuan melalui Pengajaran
Prof. Sahiron mengingatkan agar perguruan tinggi berbasis pesantren tidak kehilangan jati dirinya. “Tradisi pesantren, seperti pembacaan kitab-kitab kuning, harus tetap dilanjutkan. Itulah kekhasan dan kekuatan kita,” tegasnya.
2. Pengembangan Ilmu melalui Penelitian
Dosen dituntut untuk aktif melakukan riset yang relevan dengan perkembangan zaman guna memperkaya khazanah keilmuan Islam.
3. Pembangunan Karakter Bangsa
Dosen memiliki peran vital dalam membentuk akhlakul karimah mahasiswa. Beliau juga menyinggung pesan Menteri Agama mengenai “Kurikulum Cinta” dan pentingnya penguasaan bahasa sebagai kunci pergaulan internasional.
Kunjungan ini diharapkan mampu mempercepat langkah STAI Al-Bahjah dalam meraih predikat kampus yang unggul, kompetitif di kancah internasional, namun tetap teguh memegang nilai-nilai luhur pesantren.

